Bukan Sekedar Simbol, Kekuatan Tagar Mampu Selamatkan Sekaligus Menjatuhkan – Berita Viral

Media sosial tak sekedar jadi dunia maya tanpa makna. Perkembangan jaman yang makin tak terpisahkan dengan internet membuat medsos makin kuat menjadi bagian dari masyarakat. Tak hanya digunakan untuk sekedar saling sapa, medsos pun jadi dunia lain yang menghubungkan segala aspek kehidupan. Dari mulai komunikasi, hiburan, edukasi hingga dunia politik. Terlebih dengan adanya tagar atau hastag yang beberapa tahun terakhir jadi keyword yang membantu warganet jadi sebuah komunitas yang kuat.

Tagar ‘#’, sebuah simbol yang awalnya digunakan untuk pengganti angka ini jadi hit di kalangan pengguna internet. Dengan memakai simbol tersebut, warganet bisa bersatu menjadi komunitas untuk memberi dukungan ataupun kritikan pada bahasan yang terangkat di dunia maya. Tak terbatas pada topik penting, hastag alias tagar bisa digunakan terhadap hal apapun. Bahkan seremeh tagar OmTolelotOm.

Dari Twitter, kini merembet ke mana-mana

Penggunaan tagar tak hanya terkoridor dalam satu media sosial saja. Meski awalnya mulai dipakai di twitter, kini hastag digunakan di berbagai media sosial. Mulai dari Instagram, Pinterest, Tumblr, hingga Facebook. Kemunculan tagar ini memang dibuat untuk menggabungkan topik pembicaraan supaya mudah dilacak oleh pengguna. Sehingga hanya dengan mengetik keyword dalam media sosial, maka akan di dapatkan kumpulan postingan yang merujuk pada tagar itu.

Mulai digunakan oleh sosial media Twitter [Sumber Gambar]

Meskipun tak semua unggahan akan sesuai dengan tagar yang disematkan. Hal ini dikarenakan adanya pengguna sosmed yang mendompleng kekuatan tagar populer untuk kepentingannya. Yang banyak adalah akun online shop, mereka sering kali memakai tagar yang tidak sesuai dengan postingan untuk kepentingan marketing produk mereka. Meski salah, namun tak ada polisi ‘pembenaran’ dalam dunia maya. Karena hashtag memang digunakan secara bebas dan tanpa batasan ketat.

Gara-gara tagar jadi populer dalam sekejap

Tak bisa dianggap sebelah mata, kini dengan kekuatan tagar hal apapun bisa jadi booming dalam sekejap. Seperti populernya Om Telolet Om, dengan kekuatan hastag keyword ini bahkan tak hanya terkenal di Indonesia namun sampai jadi hit di luar negeri. Beberapa bintang dunia seperti Dj Chainsmoker, Martin Garrix hingga musisi Marshmellow pun sempat ikut meramaikan tagar ini di akun media sosialnya lho! Meski tak membawa pesan penting dan seolah hanya hal remeh semata, namun dengan kekuatan tagar topik ini jadi hit di internet. Bahkan sampai membuat beberapa seniman berkarya dengan tagar sensasional tersebut.

Tak ada aturan formal dalam penggunaan tagar [sumber gambar]
Tak ada aturan formal dalam penggunaan tagar [sumber gambar]

Oleh karenanya dengan memakai tagar, warganet bisa mengangkat topik menjadi perbincangan panas di dunia maya. Tak heran jika kemudian fenomena ini menjadi peluang untuk berbagai latar belakang profesi menggunakan hastag sebagai media marketingnya. Bahkan untuk media kampanye sekalipun! Seperti tagar #2019GantiPresiden, yang dipakai untuk membuka perdebatan terbuka di internet jelang pemilu tahun 2019.

Efektif dalam menggerakkan massa

Dengan menyematkan tagar tertentu maka akan dengan mudah mendapat tanggapan dari penduduk dunia maya. Seperti yang terjadi pada kasus Prita Mulyasari yang didakwa atas pencemaran nama baik oleh RS Omni. Tagar #KoinKeadilan menjadi bentuk kepedulian warganet dan berhasil menarik simpati masyarakat untuk mengumpulkan uang. Bahkan melebihi ekspektasi, tagar tersebut berhasil mengumpulkan uang empat kali lipat dari jumlah target. Kekuatan yang tak main-main bukan?

hashtag #KoinKepedulian menjadi tagar dukungan untuk Prita Mulyasari [sumber gambar]
hashtag #KoinKeadilan menjadi tagar dukungan untuk Prita Mulyasari [sumber gambar]

Para pemain politik pun juga memakai fenomena hastag untuk mendapat simpati dan dukungan massa. Hanya saja tak selamanya feedback yang didapat sesuai dengan tujuan awal penciptaan tagar. Karena kebebasan berpendapat pun juga berlaku di dunia maya! Ambil contoh seperti tagar #SaveAhok yang digunakan untuk meraih dukungan pada persidangan penistaan agama di tahun 2017.  Meski awalnya memang ditujukan untuk mendapat simpati para warganet, namun tak sedikit pula yang anti-ahok memakai tagar ini untuk mengkritisi mantan gubernur DKI Jakarta tersebut.

Menyelamatkan dan bisa menjerumuskan

Jika dalam kasus Prita, tagar berhasil menyelamatkannya dengan meraih simpati warganet. Maka berbeda dengan beberapa kasus netijen yang memakai tagar tidak pada tempatnya. Seperti yang terjadi pada Himma Dewiyana, dosen USU ini ditangkap polisi akibat unggahannya tentang bom dan mengaitkannya dengan tagar #2019GantiPresiden. “Skenario pengalihan yg sempurna…#2019GantiPresiden” tulisnya. Akibat postingan tersebut Himma ditetapkan sebagai tersangka karena diduga melakukan tindakan pidana ujaran kebencian.

Tagar pun digunakan untuk kepentingan kampanye [sumber gambar]
Tagar pun digunakan untuk kepentingan kampanye [sumber gambar]

Tagar memang tak bisa dianggap remeh. Meski penggunaannya semudah itu diselipkan pada postingan di media sosial, namun efek yang tercipta terbukti mampu menyelamatkan sekaligus menjerumuskan siapapun yang memakainya. Bukan lagi ‘mulutmu harimaumu’, kiasan ‘jarimu harimaumu’ sangat cocok untuk menggambarkan betapa kuatnya pengaruh dunia maya saat ini. Jadi musti hati-hatidalam pemakaiannya.

BACA JUGA: Inilah 4 Alasan Kenapa Makin Banyak Kebencian yang Menyebar di Sosial Media, Kamu Harus Tahu!

Iya, dunia maya tak lagi sebatas media elektronik tanpa makna yang bisa kita gunakan seenaknya. Selalu ada akibat yang ditimbulkan dari postingan yang terunggah. Maka gunakan dengan bijak! Karena tak sekedar simbol, kekuatan tagar mampu menjadi senjata yang menyelamatkan sekaligus menjatuhkan siapapun yang memakainya. Sepakat?

You May Also Like